Selasa, 29 Maret 2011

perbaikan diri

"Fisik boleh rusak, tapi saya tidak mau jiwa saya rusak.Pilihan ada di tangan kita, jangan pernah berhenti sampai keajaiban itu datang." (Energi Kehidupan dari Tempat Tidur, Kompas Minggu, 13 Februari 2011)

Tubuh lumpuh bukan alasan bagi Pepenk, 57 thn (nama aslinya Ferrasta Soebardi), untuk berhenti berkarya.Dari atas tempat tidur di rumahnya di Cinere dibuatlah program acara talk-show "Ketemu Pepenk", sebuah program yang dinilai bisa menyebarkan energi positif bagi pemirsa televisi.Menurut Pepenk, butuh nyali untuk bisa menerima keadaan, tidak menangis, tidak mengeluh yang justru akan menghancurkan hidup."Kita jangan sampai jadi korban dari sebuah keadaan, tapi harus bertahan.Kita harus bisa kontrol kehidupan kita sendiri." katanya.

Terpicu atau Terprovokasi?

Keadaan sebaliknya justru hampir selalu dapat dilihat pada acara-acara televisi yang kita tonon setiap hari. Penonton sepak bola ricuh dan rusuh karena terpicu wasit yang berat sebelah. Konser musik rusuh karena terpicu panitia yang tidak mengizinkan penonton yang kehabisan tiket untuk masuk. Tawuran antar kampung terjadi karena dipicu saling ejek dan kata-kata makian kasar lainnya. Massa merobohkan bangunan karena terpicu bangunan tersebut illegal tidak memiliki IMB. Massa mengamuk dan merusak fasilitas umum karena terpicu putusan hakim yang dinilai tidak adil.Sekelompok orang menyerang kelompok lain dengan pentungan dan parang karena terpicu kedatangan orang luar yang mau membela kelompoknya.
Tontonan televisi seperti itu seolah-olah mengajarkan pada kita bahwa bila ada faktor pemicu, apa saja boleh dilakukan, karena selama ini bila ada kerusuhan atau kericuhan yang dicari dan dijadikan tersangka oleh polisi adalah provokatornya.

Begitu sulitkah untuk dapat mengontrol diri dan mengontrol hidup kita sendiri?Mengapa begitu mudahnya kita diprovokasi atau dimanipulasi olah orang lain atau keadaan?Mengapa kita menjadi begitu rapuh, mudah digerakkan seakan tidak memiliki pendirian?

Gampang Menyalahkan Keadaan

Pada sebuah seminar saya di salah satu bank BUMN, peserta bertubi-tubi mengajukan pertanyaan yang intinya menyalahkan kultur perusahaan yang kurang kondusif untuk mereka bisa berprestasi. Jadi mereka masing-masing memutuskan untuk mengikuti arus dan larut dalam kultur itu. Mereka telah terpicu untuk hanya bekerja apa adanya. Buat apa berprestasi, karena prestasi tiga kali lipat saja reward-nya tetap sama dengan yang berprestasi biasa saja. Nah, bukankah yang memutuskan untuk ikut arus itu mereka sendiri?Mengapa menyalahkan keadaan?Kan tidak ada pihak yang memaksa?

Mungkin ini hanya ada di negara kita. Begitu mudahnya kita menyalahkan keadaan atau orang lain, dan kurang introspeksi juga pengendalian diri.Di sinilah kita masih harus belajar. Bila keadaan atau orang lain yang dipersalahkan, motivasi untuk memperbaiki diri jadi hilang bahkan terjadi pembenaran atas tindakan diri sendiri yang salah itu, kemudian terbentuklah comfort zone atau zona nyaman, akibatnya kemudian stagnan.Tidak akan terjadi perbaikan apa-apa.Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Jadilah Orang Pertama!


Selalu ada harapan untuk menjadi yang pertama. Bila mereka tidak bisa, mengapa bukan Anda? Jadilah orang pertama yang bisa mematahkan mitos itu. Benny Subianto, berhasil menjadi Presdir dan Wakil Presdir di beberapa anak perusahaan Astra, mengawali karir sebagai salesman di United Tractor. Houtman Zainal Arifin, berhasil menjadi Vice President Citibank, mengawali karir sebagai OB (office boy). Megawati Soekarnoputri, berhasil menjadi presiden wanita pertama. Inul Daratista, pernah menjadi sangat populer bukan karena suaranya tapi karena goyang ngebor-nya. Shinta dan Jojo sepasang wanita pertama yang berhasil menembus YouTube dengan hampir 7 juta hits, bukan karena suaranya, tapi hanya karena lip-synch.Demikian juga dengan Pepenk yang bisa menjadi presenter pertama yang melakukan tugasnya dari atas tempat tidurnya, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Belajarlah untuk mengendalikanlah kehidupan kita sendiri. Belajarlah menyebarkan energi positif. Jangan menyalahkan keadaan karena tidak akan membuat hidup jadi lebih baik, bahkan menjadikan lebih stres dan frustrasi. Apakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan?Tidak ada. Ya, tidak ada dan tidak akan bisa. Jangan bermimpi untuk memperbaiki keadaan.

Perbaikilah diri kita sendiri, jadilah yang pertama dan jadilah berbeda!
Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi tetap dengan prinsip dan pendirian sendiri.Jangan sampai larut. Jangan sampai terpicu atau ter-provokasi oleh keadaan.Laut itu asin, tapi ikan yang hidup dan berenang di dalamnya tidak terasa asin.Bila ikan jadi asin, matilah dia, itu namanya ikan asin yang enak dijadikan lauk.

Semoga sukses luarr biazza menyertai Anda.Selamat berjuang memperbaiki diri.


Drs. Mukti Wibawa, MBA
Business Inspirator & Marketing Consultant.
www.facebook.com/mukti wibawa
mukti@consultant.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar